Hei kau yang pernah tinggal di hatiku, betapa bodohnya aku masih saja memikirkanmu.
Mengapa hanya kamu yang terbayang disaat orang-orang sedang bercerita cinta?
Mengapa hanya kamu yang terbayang disaat lagu-lagu sendu kudengar?
Saat orang-orang mengingatkanku akan kebodohanku mengingat-ingat masa lalu, aku selalu berjanji untuk tidak memikirkanmu lagi. Tetapi, semakin ingin aku melupakanmu, semakin teringat pula cerita kita dulu.
Apakah disana kamu pernah merasakan hal yang sama? Aku harap kamu pernah. Jujur, aku tidak mau kamu lupa bahwa kita pernah punya cerita.
Apakah disana kamu pernah merasakan hal yang sama? Aku harap kamu pernah. Jujur, aku tidak mau kamu lupa bahwa kita pernah punya cerita.
Waktu, kamu memang hebat, bisa merubah segalanya, merubah kondisi, merubah cerita, dan juga merubah dia.
Aku tahu aku salah, mungkin bisa dibilang bodoh karena masih saja mengingat-ingat dia yang jelas-jelas sudah pindah hati.
Waktu, lewat surat yang ku tulis ini, aku mohon, buat aku lupa akan dirinya. Bukan untuk melupakan sepenuhnya, namun buat aku lupa akan apa yang membuatku sedih dan resah karenanya.
Waktu, kata orang-orang, hanya waktu yang bisa membuat kita lupa akan kepahitan-kepahitan yang kita alami, termasuk kenangan tentang orang yang pernah di nomor satukan.
Semoga, waktu bisa mendatangkan hati yang seperti dia, atau bahkan lebih baik. Semoga….
Salam penuh harap,
Aku (yang mencintai waktu dari waktu ke waktu.)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar